Pembawa cerita Raymond Carver’s cerita “Cathedral” tidak patut simpati kami untuk banyak sebab. He’s jauh terlalu
Jahat dengan kerai
. Selain mementingkan diri sendiri, sinis, malah rasis sampai titik, he’s juga cukup tidak peduli dan agak tidak toleran tetapi kebanyakan dari semua, seorang laki-laki yang sangat cemburu.
Untuk mulai, pembawa cerita potong ini adalah seorang peran serampangan yang cantik; anda bisa mengatakan kepada ini dari cara dia mengutarakan pendapatnya dan menggambarkan setiap hal kecil tiga – pencerita, istrinya dan membutakan laki-laki Robert – melakukan. Sedingin sebagai dia mungkin, pembawa cerita mempunyai juga beberapa momen memalukan. Namun, dia sering dibuat bosan; suka kalau istrinya akan mengobrol dengan teman tuanya hal yang sudah terjadi kepada mereka ber-dua sepuluh tahun yang lalu ini. Dia lebih suka duduk dan menunggu untuk mendengar satu di antara dua yang sama sekali namanya dengan keras tetapi tidak kelihatannya terjadi.
Berikutnya, let’s berbicara tentang bagaimana laki-laki ini agak picik. Pencerita ini kelihatannya mempunyai sikap sarkastik yang belaka, yang kadang-kadang akan menjadinya judgmental. Misalnya kalau dia memberitahukan pengikut-pengikut: manusia buta “A di rumah saya tidak adalah sesuatu saya melihat ke depan to” (Pengukir 477). Pada titik waktu ini, he’s rewel memandang kerai. Pembawa cerita cenderung berulang lebih dan lebih lagi ucapan ‘blind man’. Ini nampak bagaimana he’s sangat judgmental dan tidak bisa memikul tetapi saat dengan orang seperti ini. Dia malah menggambarkan semula bagaimana: “My [nya] gagasan kebutaan datang dari film. Di film, yang terharu yang buta dengan lambat dan tidak pernah tertawa. Kadang-kadang mereka dipimpin oleh mata melihat dogs” (Pengukir 477). Tak bergerak dia memberi Robert kesempatan, karena Robert adalah seorang teman tuanya wife’s.
Akhirnya, pembawa cerita adalah tak satu pun lain daripada seorang laki-laki kecil yang cemburu. Dia dengan mudah dijengkelkan dan muak tentang banyak hal berbeda. Untuk kejadian, there’s satu titik di mana dia menerangkan bagaimana istrinya dan laki-laki buta akan tidak membolehkan sedikit dengan mengirimi satu sama lain pita keluar. Cara dia memaparkannya memberi kesan bahwa dia cantik banyak jenkel. “The manusia buta membuat pita. Dia dikirimi pita. Dia [narrator’s istri] membuat pita.
Ini berlangsung untuk years” (Pengukir 477-78). There’s juga titik di mana dia menunjukkan pengikut-pengikut: “I mendengar namaku sendiri di mulut orang asing ini, laki-laki buta ini saya didn’t malah tahu! … Maybe sebaik. I’d mendengar kesaya ingin to” (Pengukir 478). Di sini dia memperlihatkan jumlah luar biasa kecemburuan untuk sebab yang sangat aneh. Istrinya mempunyai baru saja dia mendengarkan ke pita bahwa Robert sudah mengirim dia, dan pasangan sudah menikah kedua yang disela pada waktu tepat mereka mendengar Robert berkata husband’s nama. Itu benar-benar sudah menjengkelkan pembawa cerita. Lalu lagi dia berpikir, it’s mungkin terbaik dia doesn’t tahu apa adalah Robert tentang untuk mengatakan bagaimanapun juga.
Sebagai sehelai catatan terakhir, kebanyakan what’s dikatakan sebelah kanan di atas ialah sebagian besar untuk terbukti mengapa kami shouldn’t merasa jelek bagi pencerita ini. Bagaimanapun juga, he’s mendapat satu sedikit terlalu banyak sikap negatif; dari serampangan ke judgmental dan lalu ke menjadi orang yang cemburu dengan gila. There’s tak ada sebab saja bagi kami untuk merasa prihatin bagi laki-laki ini. Lakukan anda secara jujur menemukan there’s sebab bagi kami untuk merasa prihatin bagi seseorang yang mengobati monster seperti yang buta?