Saya tidak menulis ini dengan accusatory kekenyalan, pointin di yang lain sedangkan standin suara rendah di pembebasan palsu dari yang mana pun sakit. Saya ialah sebagian “we”. Mungkin lebih banyak oleh sebab itu daripada banyak yang lain saya tahu.
There’s email goin di seluruh itu membaca: “Chivalry mati. Dan wanita membunuhnya.
Sebagian dari U mungkin mengingat kampanye yang jalan beberapa tahun-tahun ago memanggil The Real Men kampanye, dengan beberapa iklan featurin Charlize Theron dengan sengau Amerikanya. “People menanya laki-laki sejati yang mana di Afrika Selatan kepada saya terus seperti.
Saya menemukan jati dirinya askin sendiri pertanyaan itu sebegitu banyak kali kemarin wonderin apa, di kebenaran, menegaskan seorang laki-laki sejati. Kami livin di dunia di mana tugas tradisional sudah dibahayakan, tetapi yang jiwa programmin tetap. Laki-laki tak bergerak tryin untuk dilihat sebagai yang dominan gender… yang menetapkan undang-undang di home… yang melindungi home… yang membawa punggung bacon… yang adalah semua super-pahlawan yang dilambangkan di sesuatu. Dan kemustahilan itu adalah kalau kami melihat-lihat, itu kelihatannya bahwa sangat sedikit laki-laki kelihatannya untuk menjadi doin anythin untuk sesuai dengan derajat mereka ialah tryin untuk terlihat di.
Dan itu kelihatannya tugas ialah changin. Ini cenderung that’s dibicarakan di perincian yang lebih besar daripada I’m goin untuk memberinya atas ciri-ciri ini.
Semakin, I’m seein wanita steppin ke piring, anak kismis seorang diri tryin begitu sukar untuk meyakinkan bahwa mereka akan ternyata anggota fungsionil himpunan-himpunan mereka yang sehat yang terhormat. Semakin, saya melihat pemudi takin ongkos hal soal itu di jiwa pribadi mereka, hal soal itu di himpunan-himpunan mereka di cara bahwa generasi sebelumnya tidak ditundukkan ke. Wanita yang menolak untuk dikalahkan. Wanita refusin untuk terlihat sebagai detik warganegara kelas. Wanita refusin untuk diobati dengan nothin kurang dari martabat.
Waktu sudah berganti. Beberapa dasawarsa-dasawarsa ago, itu ialah nothin kurang dari keji bagi seorang wanita untuk dilihat drivin mobil. Di today’s dunia, saya tahu cukup sejumlah yang dengan cepat akan menaruh U di yo tempat sebaiknya U berani malah mencoba membuka pintu bagi mereka. Yang ini adalah contoh kecil kondisi yang benar-benar besar saja, jika saya mungkin menganggapnya itu, di pembangkitan kami.
Apakah itu ialah bahwa wanita ialah findin itu perlu untuk mengisi tugas dulunya disibukkan oleh laki-laki karena laki-laki sudah melepaskan tanggung jawab mereka sebagai laki-laki? Apakah teori pengusuran tru di kasus ini, bahwa karena kami tidak doin apa kami seharusnya untuk menjadi doin, kami ialah puttin tekanan pada wanita untuk menjadi wanita dan entah bagaimana masih mengisi tugas yang di pola dan maksud asli, dimaksudkan diisi oleh laki-laki? Adalahnya sexist untuk percaya bahwa ada sebetulnya tugas pun yang dimaksudkan dimainkan oleh masing-masing jenis kelamin? Kebudayaan dan agama kami sebetulnya mengajar itu kepada kami untuk menjadi indisputable fakta. Apakah suka memberontak untuk menantang maksud itu?
There’s so many examples of irresponsible, deadbeat, abusive men. Where are we to get our inspiration from?
We have definitely gone wrong somewhere if we find it necessary to put women in their place. We’ve lost the plot somewhere if it becomes necessary to engage in power-plays to regain our position. In many ways, I feel men have not been overthrown, but have traded in their birthright for a bowl of lentil soup. And how do we come back assertin that we are still entitled to the same blessings that go with the birthright?
Men are not superior to women. Women are not inferior to men. We seem to have been called to different roles which work together to make part of a picture to big for us to encompass in a lifetime.
Last night, I was privileged to take a walk with one of the most inspirin young women I have met in a long time. We talked of many different things, and then she said somethin that at that moment pierced into my soul. I’m gonna paraphrase because I caught the spirit of what she was sayin, but maybe not the exact wordin.
“I would like to raise the type of family where my children know themselves enough To be able to be strong-willed without compromisin.
My children need to learn to be immune from outside influences
And the only way to secure that is to enforce strong family values.”
She strikes me as a woman who is aware that one of the most powerful roles any woman can play is to be the glue that solidifies the home. If U’ve seen a lot of single-father setups, U know what I’m talkin about.
I know it may seem like I’m bashin men, and that is not the intention. Tru, it may be argued that some women have contributed to the state we find ourselves in. But I just wonder to myself: What does it take to be a real man? What does it take to be the kind of man that’s not always strugglin to take advantage of his woman and women around him? The loyal type of man who knows his place in his life, home, community and generation? A man who is a challenge to many around him to be loyal, truthful, virtuous, carin, lovin and affectionate… What does it take to do the right thing, even though there may not be any consequences?
To test your character ask yourself what you would do
If you knew that you would not be held accountable
For the consequences.
Author Unknown
Quote Contributed By Vuyisile Nyandeni
Article By Tebogo Rameetse
sigaophobia
fear of silence