Sesudah amat mengecewakan kami dengan cukupan “War Worlds”, Steven Spielberg sangat sudah menyelamatkan sendiri di mata saya dengan menakjubkan “Munich”.
Berdasarkan peristiwa sebenarnya yang terjadi di Munich Olympics pada 1972, film ini mulai dengan parodi sebanyak 11 orang atlet Israel yang dibawa penyanderaan dan secara brutal dibunuh oleh kelompok teroris Palestina, ‘Black September’. Peristiwa ini mengejutkan dunia dan yang utuh dari jeritan Israel untuk balas dendam. Pemerintah Israel, yang dikepalai oleh Golda Meir melihat yang nyaman, mengembangkan rencana untuk membunuh ke-11 orang Palestina yang dilibatkan di serangan teroris ini. Untuk ini mereka membentuk perkumpulan rahasia yang dikepalai oleh seorang anggota Mossad, Servis Rahasia Israel- Avner (Eric Bana). Dia diminta membahas misi pelacakan ini dan membunuh orang yang bertanggung jawab atas serangan Munich. Awalnya, dia tak pasti entah untuk membahas tanggung jawab ini atau tidak tetapi akhirnya menyetujui dan, serta laki-lakinya, memulai memperlihatkan kontak dan membunuh yang diperlukan. Meskipun ragu-ragu mulanya, dia menjadi teramat didedikasikan sampai kewajibannya dan ditentukan untuk dengan berhasil menyelesaikannya. Kelompok dengan cermat merencanakan kematian masing-masing sasaran, secara cermat pilih-pilih tentang tidak menyebabkan kerugian ke innocents. Sebagai mereka inci lebih dekat hingga akhir misi mereka, anggota kelompok mereka mulai dibunuh oleh orang mereka sesudah.
Sesudah percobaan yang dirintangi sampai penerimaan hidup setelah pantat bilangan menonjol yang khusus serangan Munich, Avner pulang tak rela meneruskan misi. Dia merasakan pengertian mendalam kesalahan. Pembantaian masal Munich menghantuinya, hanya sementara bersetubuh kepada istrinya. Ini, dan pikiran seluruh darah dia sudah berganti bulu, memberinya malam-malam tak dapat tidur dan tingkah-laku yang sangat penuh kesukaran. Film berakhir di atas sehelai catatan harapan mungkin untuk negara, sewaktu Avner mencoba menerangkan kepada majikannya kesia-sian begitu banyak kematian dan kekejaman kepada orang.
Beberapa pemandangan di film ini luar biasa dalam dan berarti, seperti yang satu ini di Louis yang mana (group’s menghubungi) meminta bapaknya- bagian depan pakaian informasi- untuk menerangkan mengapa mereka melakukan apa yang dilakukan oleh mereka, yang merenggut sebegitu banyak orang from jiwa. Kepada ini, grandfatherly melihat Papa mengeluhkan bagaimana sesuatu mengerikan selalu diganti lain sejelek atau lebih jelek, dan bagaimana pemerintah sebaiknya dihindari sejauh mungkin.
Di satu titik, ini diskusi hangat tentang posisi orang Yahudi dan orang Palestina di antara seorang anti-Semit sangat kuat dan seorang simpatisan orang Yahudi (Avner). Sudut pandang bertentangan secara gamblang ditimbulkan dan pemandangan utuh sungguh melibatkan dan melebihi.
Selama jalan tindakan, satu laki-laki Avner’s (pembuat bom) jadi sangat emosional dan diliputi dengan apa yang sedang dilakukan oleh mereka- mereka, ‘decent’ orang Yahudi. Dia kelihatannya jadi sangat dikecewakan dengan situasi dan can’t kelihatannya menerima apa yang sedang dilakukan oleh mereka. Sangat mengharukan bagian.
Eric Bana has done an exceptional job in portraying the role of a military agent, dedicated to his country and willing to avenge his people’s deaths. At the same time, he is a family man- a devoted husband and a loving father. He leaves his crucial mission halfway and heads home, just to be there for the birth of his daughter. Later, when he’s out on the field and talking in the phone to his wife, he breaks down and gets teary on hearing his daughter’s voice. He appears to have become hardened and come to terms with his life and his job, but soon starts having sleepless nights and paranoia for his life. Even when he is home after abandoning his mission, he fears for his life and that of his family. He seems bewildered and unsure of how to react when a couple of minor Israeli officers express their honour at meeting him. Thus is illustrated a good honorable man who starts questioning the morality of all he has done, overcome with sadness at the state of affairs in his beloved country.
Throughout the movie, the brutal murder of the athletes is shown in fragments in a heart rending manner. Depicted very tragically, and with impeccable timing. The movie has an added element of authenticity with the many news broadcasts shown in it being original broadcasts from 1972, during this period of unrest in the world.
An extremely serious and somber movie, with brilliant acting, great direction, and beautiful choreography of the action. Definitely a must-watch for serious movie buffs with a taste for simplistic serious fare.
My rating-9.5/10