Pada Sabtu siang pada Juli pada 1982, saya menghadiri perkawinan di luar. Jika bisa kacau dilakukan. Akan diingat oleh seluruh itu diurus sebagai cerita kengerian menikahi yang Di Luar. Apakah saya sebetulnya tidak di sana, saya tidak akan percaya seluruh itu terjadi hari istimewa itu.
Perkawinan di groom's orang-tua peternakan di Missouri. Rumah indah dengan sebuah genangan, kebun, rumpun-rumpun pohon, dan ternak. Upacara diadakan di sebelah barat rumah mereka yang melihat ke luar di atas satu bidang lebat hijau. Tiga ratus kursi putih meluruskan bunga menggantungkan gang bagi pengantin wanita dan pengantin laki-laki untuk bertukaran sumpah mereka. Kuda yang bersuka-ria dan lembu yang merumput di jarak membuat gambar indah untuk peristiwa. Sudah hujan turun tadi pagi itu dan tanah masih adalah kelembaban dan lembab.
Tiba dengan hadiah di tangan, kami dikawal sampai bidang genangan. Agak terakhir sedang ditetapkan di enam kue pengantin lapis, sewaktu kami menempatkan hadiah kami di atas meja hadiah. Seorang pemuda yang sangat baik mencoba mengantarkan kami ke adalah tempat duduk. Hujan pagi sudah terbukti menjadi cukup hujan saja untuk membentuk genangan dan lumpur kecil di kebun. Setiap wanita di tumit tenggelam ke dalam tanah begitu dia membuat satu langkah. Masing-masing laki-laki mempunyai lumpur yang menutupi sepatu rok dan kaki napas pendek mereka. Adalah permulaan saja.
Matahari adalah bulu burung kuat dan memikul di persis dua o'clock ketika upacara mulai. Kami nanti diberi tahu suhu mencapai 102 derajat sore itu. Kelembaban dari hujan berlama-lama sewaktu musik mulai. Seorang pengantin laki-laki mabuk, beberapa pengiring pengantin lelaki, dan seorang pastor tahan menunggu bagi pengantin wanita untuk muncul. Bunga indah sedang mulai menjadi layu sewaktu gadis bunga dan pembawa lingkaran berjalan ke bawah gang. Pengiring pengantin wanita dengan lambat membenamkan lumpur sewaktu mereka berhasil ke berubah. Berarti pengantin wanita, tamu berkeringat lega mempunyai kesempatan untuk bergerak.
Berpakaian dinya mother's menikahi rok satin berat dan sembilan kaki kereta api, pengantin wanita adalah pandangan di putih. Bapaknya yang menetes di keringat memegang lengannya sewaktu mereka turun di bawah gang. Sepuluh langkah dari tujuannya, dia membenamkan lumpur dan tidak bisa dipindahkan. Tersenyum untuk dunia untuk melihat, dia membuat beberapa menghadiri untuk mengeluarkan pijakannya sebelum dia pergi tumbang lebih. Pengantin wanita cantik adalah sekarang gambar di atas satin putih dan lumpur coklat.
Ketika megap-megap reda dan pengantin wanita diberikan kepada pengantin laki-laki sumpah dimulai. Pastor adalah seorang keluarga berkunjung. Dia adalah seorang pembicara. Seorang laki-laki yang tidak diganggu oleh perlombaan. Dua puluh menit sampai tumbuhnya tak, teratur kebasahan pembawa lingkaran celananya. Tiga puluh menit di, pengantin laki-laki menjadi sakit di perutnya. Kami tidak akan pernah tahu jika menjadi alkohol, berbau air kencing, atau panas yang membuatnya muntah. Tetapi, muntah dilakukan dia.
Sejam ke dalam upacara, kuda sudah berhenti bersuka-ria dan lembu sudah berpindah untuk melihat apa seluruh kegemparan tentang. Di tiga tiga puluh hari panas itu, tiga ratus orang tamu menyaksikan seekor sapi jantan yang menyervis pantat kawanannya pengantin wanita dan pengantin laki-laki. Saya tidak mengingat jika gelak tawa mulai lalu atau ketika penerima tamu melompati pagar untuk menghentikan keributan. Sumpah akhirnya ditutup di empat o'clock sewaktu truk Budweiser datang memutuskan terompetnya dilakukan jalan kecil.
Suit jackets all removed, hair flat and wet from the heat, and drying mud on the feet of the less than happy crowd was making for a dreary start to the reception. The crowd moved from the garden to the pool to find a surprise awaiting them. There sitting in the sun was a six tier wedding cake with melted icing dripping from the layers. All that remained of the masterpiece was a very perky looking bride and groom figure sitting onto.
The bride was crying as they cut the dried out cake, the groom was feeling better as he slammed down cold Budweisers, and the guests were happy as the food was served. While the bride was getting her dress cleaned up for photos, the men in the wedding party were having their pictures taken. Standing in front of the pool with drinks hidden in hand, stood the groom, the groom's father, and the bride's father. The photographer was adjusting the groom's collar as a scream erupted. A large flock of birds had flown overhead depositing a white runny gift on a near by table. The ladies scream had startled the photographer enough to lose her balance. Thus, the tuxedo clad gentlemen and the photographer all fell into the pool.
The wedding portraits were taken after the honeymoon, needless to say. The reception would have had more classic moments, I am sure ,had it not been cut short. On that hot, muggy, and memorable day it began to rain as the bride danced with her father. It was a fitting conclusion to the outdoor wedding horror. To those of us that actually attended the wedding that hot July day and their 25th wedding anniversary this year, it is simply referred to as the bull sex wedding.