Filsafat Nafsu
(Kata Pengantar)
Sejak Aristoteles, semua filsuf setuju kapasitas manusiawi itu terdiri atas tiga fakultas ini: rasio (otak), akan (nafsu), dan jiwa. Tetapi, sejarah umat manusia hanya didasarkan di rasio sebagai satu-satunya kondisi untuk memperlihatkan kebudayaan manusiawi di seluruh dunia. Manifestasi rasio, sebagai diketahui oleh kebudayaan manusiawi, seperti teknologi, sains, religy, dll dituntut sebagai fakta nyata manifestasi rasio. Tak seorang pun bisa menyangkal fakta ini.
Di akhir modernism, filsuf merenungkan sesuatu dan memikirkan kembali tentang manifestasi ini humanâs rasio. Perenungan mereka atau memikirkan kembali mendasarkan di situasi kebudayaan manusiawi itu (seperti teknologi dan sains) mendasarkan di rasio sudah menciptakan inhuman mempersiapkan: pengasingan, kemiskinan, perang, dll. Di kata lain, kebudayaan manusiawi harus diperlihatkan dengan koordinasi dengan fakultas yang lain humanâs: nafsu!!
Friedrich Nietzsche, Germanâs Philosopher, adalah yang pertama yang proclamate hasrat: akan untuk menggerakkan. Ke tenaga atas pendapat Nietzsche adalah loncatan baik dari pendapat Freud dan Freudiansâ. Freud menyatakan hasrat sebagai tenaga negatif yang harus diasingkan atau prisoned. Oleh sebab itu, nafsu canât manifestate sendiri untuk menjadi sebenarnya. Rasio dan manifestasinya mempunyai pekerjaan ke penjara tenaga negatif ini oleh semua pengaturan sosial seperti keluarga, kindship sistem, bangsa dan strukturnya, agama, dan sama sekali hal bahwa ditegaskan sebagai pengaturan sosial.
Sejak Nietzsche, diikuti oleh postmodernism filsuf, seperti Gilles Deleuze, Derrida, Foucault hasrat memikirkan kembali sebagai tenaga positif. Hasrat canât ialah prisoned oleh fakultas, pengaturan, atau setiap hal. Hasrat adalah tenaga bahwa di posisi untuk menciptakan, ke manifestate. Tenaga mengembara Itâs. Nafsu ialah magnificient tenaga bahwa bisa mendirikan humanâs kepribadian dan kebudayaan juga. Nietzsche dan pengikutnya, lalu, membuat cara baru di filsafat: filsafat desire.agustinus hartono