Di sana selalu sudah terus-menerus cenderung orang yang pindah dari tempat tinggal pedesaan sampai luas perkotaan di pencarian mendapat, pendidikan yang lebih baik atau mungkin disebabkan oleh degradasi lingkungan di daerah pedesaan. Malah, konflik politik, perang, dan perbedaan penghasilan di antara dan dalam daerah juga mungkin menjadi faktor memotivasi yang menghasilkan migrasi entah internasional atau nasional. Yang mana pun mungkin menjadi sebab, migrasi adalah gejala yang sangat biasa dewasa ini di kebanyakan kota.
Studi baru saja mengungkapkan bahwa penduduk perkotaan meningkat hari demi hari. Dengan kasar di atas 125 juta orang tinggal di luar negara mereka asal dan bertempat-tinggal di negara berkembang. Data ini termasuk 12 juta orang pengungsi 1997 itu, migran permanen dan oleh sebab itu memanggil migran lingkungan dan migran yang tak dicatat. Hingga ke studi pada 2005 menampakkan, dari total penduduk, sekitar 73% di Eropa, 74% di Amerika Latin dan Carribean, 75% di Australia dan Selandia Baru terdiri dari perkotaan penduduk. Di gerak-gerik penduduk Afrika dan Asia masih menyesuaikan diri ke pola tua. Juga dianalisa dan ditemukan bahwa oleh peralihan abad 261 kota di negara berkembang akan mempunyai sependuduk sebanyak di atas satu juta. Ada sekitar 14 mega-kota yang demikian dipanggil dengan 10 juta orang yang diharapkan berlipat dua menjelang 2015. Masalah di Cina ialah juga pun gawat. Diharapkan kedatangan bahwa penduduk perkotaan akan bertambah dari 35%to 45% menjelang 2010.
Tetapi, migrasi menyebabkan urbanisasi yang biasanya menemani perkembangan sosial dan ekonomi. Di beberapa negara berkembang seperti Afrika kenang pertumbuhan pedesaan kegawatan daripada perkotaan perkembangan yang didasarkan. Tetapi secara kebalikan, migrasi ke kota mungkin mempengaruhi tempat tuan rumah, tempat asal dan penduduk sebagai seluruh. Bukan orang ragu-ragu dengan mudah bisa menemukan jalan raya cukup pekerjaan di kota, yang mempunyai tempat industri ditentukan-ups di perbedaan menyolok ke satu-satunya avenue—agriculture di desa. Tetapi sewaktu perpindahan karyawan menambah jalan raya ini menjadi jarang sewaktu terjadi di Vietnam di mana gelombang karyawan tiba dari daerah pedalaman dan mulai akhirnya tunakarya. Dalam mencoba memenuhi kebutuhan mereka mereka mulai tinggal di apartemen penuh-sesak dengan kekurangan air dengan gemulai dan servis kesehatan dan melibatkan sendiri di pekerjaan gaji rendah. Banyak waktu, masyarakat tuan rumah, negara atau pemerintah tidak mempunyai undang-undang daksa atau plannings untuk memberikan tingkat yang lebih baik tinggal ke yang ini mendiami. Sebagai kota menjadi lebih mendiami, tempat tinggal hidup menjadi macet. Dengan begitu mereka mulai tinggal di pemukiman penghuni dan perkampungan kumuh. Orang mulai melanggar milik umum. Misalnya, jutaan orang berpegang teguh pada bukit Rio De Janero dan kuburan Kairo pun dipakai sebagai rumah oleh orang ini. Dengan begitu sering kuburan yang ditempati oleh penduduk migran diserahkan sebagai ‘city dead’.
The lives of the people in the slums become pathetic day by day. These areas lack proper drainage and garbage disposal system that other way affects the environment and the health of the people. These places even lack proper health care facilities. Thus they lead a very unhygienic life.
Reversibly migration leads to crisis in manpower in the villages, which are the primary producers of raw materials. This affects the economy and the social life of the people. But sometimes international migration proves to be a good source of foreign exchange as the remittances from migrants are a significant source of foreign income. In some countries educated employees migrating to the developed places contributes to the economy of the place of origin. Their income used for consumer goods, building homes, education and health in general contributes to the standard of living to the remittance- dependent families. Moreover young educated migrants from developing countries fill the gaps in work forces of industrialized countries. In many countries the infrastructure built for industries are maintained by the migrant population. Thus migration has both merits and demerits that affect the host and migrant population together.
But is the city life able to give a real better living to all the migrants? The question is hard to answer in a one go. In trying to adapt to the conditions of the city environment the people engage in mean jobs which are sometimes unsocial and even fall victims of abuses. Recent studies in China reveals that now more population faces abuses, lack of health services, old age support and are also denied employment. As a consequence the criminal activities rose
to 30% in Beijing, 70% in Sanghai and 80% in Gungdong.
Even though urbanisation which is again an outcome of migration indirectly, accompanies social and economic development but the rapid inflow of people to the cities today is straining the local and national governments. Most of the host governments facing problems as they does not have any strategic planning to provide the most basic needs like water, electricity and health service to this rapidly growing population. Many countries do not have any proper planning regarding the migratrant population. Policy makers look these things as a negative force that creates necessities to be fulfilled and problems to be solved.
Thus in trying to adjust with the city life, the life of this people degrades and they end up in a pathetic living condition, which affects the humanity as a whole. Their dream for a better life shatters and life becomes more mechanical as necessities make people pay least attention to the basic human values. The environment degrade, health of the people deteriorates and indirectly affects the socio-economic state of the people. Though the problem of migration has not attained an epidemic state till now, if initiatives are not taken to check urban-rural migration, it would surely turn up to be a severe problem in the near future.