Postmodernism
Postmodernism benar-benar seperti “ghost”. Orang bisa mengasumsikan itu sebagai tidak ada atau omong kosong. But,at yang sama waktu, orang bisa melihat postmodernism sebagai dewasa ini benar-benar fakta. Orang bisa mengatakan bahwa postmodernism adalah cara koma/mati intelectual atau aborsi di muka kelahiran. Sedangkan bisa kata orang bahwa postmodernism adalah yang baru dan baru saja wacana. Masa postmodernism benar-benar berisi sangat banyak ketajaman, oleh sebab itu setiap argumentasi di postmodernism bisa disetujui.
Masa postmodernism bisa memperlihatkan yang berbeda definiton. postmodernism mempunyai arti sebagai:
Gaya/jalan di pemikiran filsafat,
Peralihan sejarah
Keterbatasan/kritik di modernism
Setiap definisi mempunyai akibat logika tertentu, walaupun mempunyai hubungan satu sama lain. Sebagai jalan di pemikiran filsafat, postmodernism ditunjuk oleh J.F.Lyotard’s pendapat. Charles Jencks, Andreas Huysen, David Harvey, dll melihat postmodernism sebagai peralihan dari modernism. Di sini, banyak filsuf, seperti Habermas, Anthony Giddens, Ernest Gellner, mempunyai crutial pertanyaan mengenai hal dan waktu pengalaman itu peralihan itu. Tetapi, jika kami melihat postmodernism sebagai kritik di modernism asas, dengan begitu postmodernism berpelukan isi banyak, gaya, dan personage. postmodernism becames batas bagi setiap mendesah di dimensi tertentu.
Sebagai batas, postmodernism bisa dilihat sebagai wadah kosong atau sebagai wadah untuk segalanya. Tetapi, postmodernism sebaiknya dimengerti sebagai “the yang kosong hamper”, tetapi it’s sebenarnya. Postmodernism dilihat sebagai keranjang kosong (kriteria) karena ada yang mendesah:
Desah untuk mengasumsikan bahwa setiap klaim di “reality” (self-subyek, sejarah, Tuhan, kebudayaan, dll) sebagai pembuatan dibuat-buat dan politik
Orang skeptis sampai setiap kepercayaan/”ism” di atas bahan obyektif
Kenyataan bisa dimanfaatkan dengan banyak cara (pluralisme)
Pidana atas otonomi dan tertutup “system” tak relevan dan harus diganti oleh dinamik “web”, “relationality”, atau “process”
Worldview bahwa melihat everyting dengan “either-or” (biner oppotition) tak relevan
Rasa hormat kepada setiap fakultas: emosi, imajinasi, intuisi, spirituality, nafsu, dll
Rasa hormat ke “the otherness” bahwa didiskreditkan oleh modernism: wanita, tradisi lokal, dll.
Ino hartono@yahoo.co.id
Menerbitkan: 2007-03-01
Pengarang:
Agustinus hartono
Mengenai pengarang atau penerbit
Male, yang tidak dinikahi, segar memakai tanda ukuran di philosophy.I sangat berkepentingan terhadap tulisan artikel atau buku tentang filsafat atau politik. Pada Maret 2007, saya menerbitkan buku pertama saya tittled "Skizoanalisis:Sebuah Genealogi Hasrat".In ini book,i menuntut bahwa sejarah mendasarkan di rasio sudah menghasilkan ketidaksadaran abnormality.Therefore,I mempersilahkan anda menjalani hidup anda yang berdasarkan hasrat anda untuk hidup sebenarnya life.nowadays,all kami bisa mengatakan bahwa adalah era baru nafsu."
agustinus.hartono@gmail.com
www.filsafathasrat.blogspot.com
Source:
www.articlesgratuits.com
|
Most popular articles from Philosophy category
|
|
|
|