Pada abad kedua puluh ini, kebudayaan dan peradaban di pakaian yang agak longgar baru dan cepat. Ada beberapa topografi ke characterize kebudayaan baru dan cepat ini.
Pertama-tama, kebudayaan kami dilukiskan oleh cyber-kebudayaan. Ini cyber kebudayaan membentuk komunikasi jaringan apa menimbulkan interaksi global. Interaksi global, tentu saja, mendakwa tinggi kehalusan perasaan, kesadaran tajam atas pluralisme, ketegangan hebat atas relatitas. Sebaliknya, absolutisme tak relevan. Ini pretensi mempunyai untuk dipercakapkan karena siasat digital di cyber-kebudayaan memungkinkan letusan antara fakta dan fiksi. Pembuatan uang logam di atas lambang atau cerita mustn’t mempunyai referensi fakta atas kenyataan, tetapi hanya perlu self-surat keterangan.
Yang kedua, kebudayaan kami ialah characterized sebagai akhir ideologi. Percakapan di hebat/ideologi politik superior usang dan tak relevan. Atasan berkomunikasi, demikian juga religies, menjalani kegawatan dalam. Asas pokok apa yang mendasari sistem lambang penting tak konklusif dan menjadi polyphony. sebagai hasil tidak ada sistem utama ke mempersatukan pengalaman, tidak ada pemilih kebudayaan bening apa yang membuat antusiasme, harapan, nafsu, dan kebahagiaan.
Ketiga, kebudayaan kami ditandai oleh pertumbuhan kapitalisme, tetapi kapitalisme ini mempunyai fungsi ambivalen di kebudayaan kami. Di satu sisi, kapitalisme mengeruk human’s naluri dasar (seksualitas, makanan, sensasi, dll) dan menjelajahi kebebasan secara terus-menerus oleh sebab itu membuat kata hati menjemukan dan liar. Di sebelah yang lain, manusia persis memburu produk kapitalisme dengan tak habis-habisnya.