Beberapa Akibat Seni Kinerja (Part II)
Seni kinerja dengan tiga orang perannya, sewaktu saya menerangkan di bagian pertama dua artikel saya itu, membawakan suatu obat akibat.
Di satu sisi, terbukti seni kinerja memerlukan adanya diskursif konsep. Tetapi di sebelah yang lain, seni kinerja harus ada di bentuk tamsilan yang tak diskursif visual. Kontradiksi antara dua kecondongan ini tak terpisahkan di hubungan antara kata dan tamsilan. Dunia selalu ditangkap oleh tamsilan, dan tamsilan dimengerti kalau bisa dikucurkan.
Di satu sisi, ada idealisme atau maksud untuk menangkap/mendapat dalam misteri pengalaman dan hidup. Di sebelah yang lain, keinginan seni kinerja untuk menceritakan sendiri untuk audiens. Tetapi ini communicability perlu membawakan perbuatan seni menjadi banal/dangkal, lisan, dan seni sepele.
Di satu sisi, seni kinerja mempunyai yang mungkin untuk membuat pengertian baru atas kenyataan, tetapi dilakukan misi ini sering dengan melanggar bentuk pantangan di masyarakat. Sebagai usaha untuk melanggar tabu ini, seniman sering memakai badan telanjang mereka. Usaha keji ini, di seni kinerja pertama mereka, dipakai sebagai effek mengejutkan untuk pantangan di masyarakat.
Secara intuitif, seniman sering cenderung untuk memperkokoh mereka selves. Di tangan yang lain, seni kinerja temporal. Sesudah memahami seni kinerja, audiens atau orang hanya mempunyai kesan atau renungan, lalu akan hilang. Seni kinerja berbeda dari seni pahat atau melukis yang lagi bisa dimengerti. Lebih dari itu, daya menjual seni kinerja di bawah seni pahat atau lukisan. Kadang-kadang, seni kinerja malahan couldn’t dijual. Itu adalah sebab mengapa keperluan seni kinerja baru konsep seni dan arti menjadi seniman. Di seni kinerja, seniman bisa surut, ditengahi oleh audiens dan
Berkuasa oleh peristiwa. Di kasus ini, baru konsep seni dan hubungannya ke benar-benar hidup menjadi salah satu aspek radikalnya.
Ino hartono@yahoo.co.id
Http://www.articlesgratuits.com