Teori Kompleks Keberadaan
|
Teori, teori keberadaan, teori evolusi, Charles Darwin, primat, homo sapiens, evolusi, keberadaan, homo, keateisan, Darwin, asas, filsafat
|
Saya tidak akan memperkokoh bahwa saya adalah seorang ateis. Saya hanya tidak puas atas keterangan di buku Genesis yang seorang diri mengenai keberadaan hidup. Untuk mempunyai jawaban, saya mengandalkan pada konsepku sendiri Teori Evolusi, yang saya hanya didasarkan saja dari fakta ilmiah dan konsep filosofis saya sudah belajar sepanjang pertumbuhan saya tahun-tahun.
Sama sekali mulai dari gas dan partikel debu yang tersebar di seluruh alam semesta gelap yang seperti kevakuman. Sewaktu waktu lewat, ini gas dan partikel debu dengan lembut dilekatkan bersama ke dalam kelompok-kelompok, akhirnya membentuk badan surgawi sewaktu mereka dengan lambat menjadi lebih besar. Kelompok-kelompok gas dan partikel debu ini berisi berbagai elemen bahwa sudah mungkin membuat di atas planet kemampuan berbeda. Dan oleh sebab itu di kasus ini, hanya Bumi, planet kami, bisa mempertahankan hidup. Ada beberapa teori ilmiah yang bisa berhubungan dengan ini, tetapi atas teori khusus yang mana saya mendasarkan ini di semata-mata diserahkan kepada saya.
Bergerak maju, saya harus mengakui seorang laki-laki terkenal menyebutkan Charles Darwin. Sejak saya Bumi-penduduk, saya akan memusatkan evolusi pada planet ini seorang diri. Saya sebaiknya mengatakan bahwa undesolved gas dan partikel debu di dalam Tanah berkembang menjadi kehidupan dan di kelak kemudian hari menjadi jasad renik sederhana yang menghuni tempat tertentu di planet. Begitu banyak era lewat, jasad renik ini yang bersel tunggal berkembang ke dalam jasad yang lebih kompleks. Beberapa adalah makhluk sangat besar dan beberapa adalah yang sangat kecil. Tetapi waktu Zaman Es datang, ratusan makhluk ini tidak selamat dalam cuaca, dan sewaktu detail mengatakan, makhluk ini meninggal membiarkan kami hanya dengan fosil mereka dikubur di mana-mana.
Divulging ke dalam titik yang lebih spesifik Darwin’s asas, saya pergi bersamanya ketika dia mengatakan bahwa manusia datang dari siamang atau primat meskipun ada yang agak akan membantah kepada ini. Periode berlangsung, dan siamang ini mempelajari teknik untuk kelangsungan hidup – tepat seperti yang sebelumnya micros yang berkembang menjadi yang kompleks. Siamang ini belajar memakai tangan mereka sewaktu mereka menemukan alat sekitar mereka. Tamsilan fisik primat ini juga berganti sewaktu mereka menyesuaikan diri ke negara bagian memperbaiki mereka. Terlebih dulu, adalah Hominids, dan lalu datang Homo Habilis, dan di kelak kemudian hari, Homo Erectus.
Menutup yang di atas generalized sejarah, saya sekarang bermaksud membicarakan laki-laki sekarang. Kami, sebagai Homo Sapiens atau manusia beings. Secara ilmiah berbicara, seperti yang maju sebagai kami akan mempunyai analyzed aliran primordial syaraf kami, kami juga sudah belajar mengikuti dentaman kami hypothalamus sama baiknya dengan perintah otak besar kami. Oleh karena itu, kami sekarang meliputi dunia dengan beton dan pohon yang diganti dengan pos dan cabang listrik dengan pengawatan. Kami secara harfiah memindahkan gunung ke jalan, menaruh ke atas langit-pengikis sebagai pengganti yang itu. Keseimbangan yang seluruh pernah, yang tidak lebih disukai oleh kami anymore, sekarang menjadi tak perlu. Oleh sebab itu untuk berkata, kami sudah menuntun peluru dan laki-laki sesat. Bom pintar meluapi buatan tanah dan pencemaran dunia yang seperti jaringan jalan yang ruwet lebih dari labirin teror.
Upon analyzing, a profound philosopher had said that everything began from dust and to dust everything shall soon end. Perhaps that could be true. I must agree because upon mere observation, planet Earth is slowly melting with the alarming presence of Global Warming and other natural calamities that are all deathly. Most probably, there will come a time when all continents will just be like certain regions in Africa wherein thirst and famine collide. And someday, the universe shall go back to the point where it had once started everything – a vacuum-like dark space full of gases and dust particles. But somehow, we really do not know what is going to be the exact future of this evolutionary existence.
To sum it all up, I cannot fathom my own analogy of the evolution theory and all the other scientific theories related therein. Nevertheless, as belonging to the newer and more advanced breed of Homo Sapiens, like everyone else, I am not satisfied with a single postulate alone. As a critical thinker gifted with a rationale, I prefer to keep on searching for probable answers rather than just ponder on the finite mysteries explained by the great being.
Published: 2007-12-03
Author:
Geraldine Santua
|
|
theory, theory of existence, evolution theory, Charles Darwin, primates, homo sapiens, evolution, existence, homo, atheist, Darwin, principle, philosophy
|
About the author or the publisher
My passion is writing.
I actually cannot live without a pen and a paper or a Personal Computer.
I write about everything - everything that comes into my mind - about the world in general. I usually love to comment on things that most people find common and normal. I tend to go on my own way.
I don't really bother what people say about me. I don't even care if they find me sooo weird. All I'm into is that as long as I can express my worthiness then I'm alive!
www.orientseas.blogspot.com
Source:
ArticlesGratuits.com - Free Articles
|
Most popular articles from Natural Science category
|
|
|
|