(Le Renard et l'enfant oleh Luc Jacquet)
Film menakjubkan dan sangat mengesankan mengenai alam dan sikap kami ke itu.
Cerita, sebagai kami mengerti, mengenai seorang gadis muda yang menemui seekor rubah di hutan dan memutuskan berkawan dengan. Mulanya pertimbangan kami dengan mudah berpikir bahwa mungkin menjadi cerita baik bagi anak. Tetapi film mulai, kami mulai untuk menonton itu dan sewaktu maju, kami setapak demi setapak mengubah pendapat dan undian ini kesimpulan berikut:
Terlebih dulu, bahwa tidak adalah cerita.
Detik, bahwa tidak benar-benar bagi anak.
Ketiga, bahwa tidak baik di semua.
Semula segalanya nampak sama sekali benar, pun memikat hati. Gadis melewatkan jam-jam lama di hutan yang melihat binatang, mengikuti jejak kaki mereka, dan mempelajari banyak hal di sekitar dunia memikat hutan gunung. Dia mempunyai kesabaran, dia sopan dan bijaksana, kunjungan kehormatan alami lingkungan dan pengambilan ingin tidak menyebabkan kerusakan yang mana pun ke itu. Bagaimana bagus, sesuatu bisa mengatakan, setiap anak sebaiknya seperti itu, dan kami akan tidak mempunyai sebab untuk khawatir akan alam anymore. Tetapi sesudah sedangkan, sewaktu bulan-bulan sedang lewat dan musim dingin berganti ke dalam musim semi, dia menemukan binatang yang dia suka pada begitu banyak. Selain itu, rubah - yang ternyata seekor rubah betina dengan seperindukan sekitar lima ekor binatang muda baru lahir, membesarkan mereka seorang diri karena sobatnya diracuni - dengan lambat menyetujui penampilannya dan kapan-kapan membolehkan gadis menyentuhnya.
Dari lalu pada anak sopan, bijaksana dan sabar menjadi mementingkan diri sendiri, menuntut, dan pun kejam ke binatang. Tidak ke seekor binatang yang dia menemukan jelek, mengerikan atau menjijikkan tetapi seekor binatang yang dia suka dan secara hebat mengagumi untuk kecantikannya, gerakan lemah-gemulainya, keramah-tamahannya yang tidak bersalah dan perjuangan mengejutkannya seumur hidup. Gadis mau membawa rubah betina pada seorang peranan penting, mencoba memaksanya untuk bermain permainan kekanak-kanakan dengannya, dan akhirnya menutup binatang di kamarnya. Naik mobil ketakutan rubah betina gila, dia buru-buru ke atas dan hal tidak jalan, terguling dan retak, membuatkan bunyi nyeri, dan akhirnya lonjakan lewat jendela tertutup, dengan serius dilukai, dan tinggal di sana mati.
Tidak ada peran pengasih lain di film, tak seorang pun di samping gadis yang akan mempengaruhi kelakuannya baik di positif atau di cara negatif. Tentu saja konon bahwa dia mempunyai orang-tua tetapi mereka tidak pernah dilihat. Sebab adalah nyata bahwa film bermaksud nampak child’s (atau seorang manusia being’s) memiliki, mentah dan mungkin naluriah keingian untuk mempunyai makhluk yang dicintai, dan malah dengan tanpa ampun mengorbankannya untuk sake mempunyainya.
Di akhir film gadis sudah adalah seorang ibu yang mengatakan ceritanya kepada anak lelaki kecilnya. Dia berkata, memang, bahwa kami mempunyai untuk mencintai, untuk tidak mempunyai. Tetapi tidak ada kata tentang, tak ada petunjuk yang paling kecil kepada itu dia salah hari-hari itu, bahwa dia melakukan kesalahan serius. Saya merindukannya. Malahan, konon bahwa orang dan rubah tak pernah benar-benar bisa berteman. Ya mereka bisa - hanya diperlukan sikap yang lebih tak mementingkan diri sendiri dan lebih mengerti toward makhluk cantik dan berharga alam.
Apart from all this, the film is very much worth to see. There are magnificent, breathtaking scenes, depicting nature and animals in a sincere and unbiased way. Nature is beautiful, fabulous, and at the same time majestic and threatening, too. The behaviour of the animals in the film is quite natural all the time. A remarkable scene is, for example, the one where the little girl tries to protect the vixen from the wolves. Those animals respond to her 'tricks' just as if wolves did in any forest, without blood-thirsty attacks, and without an unjustified fear from a child either. They only become surprised, and being uncertain about what to do, walk away.