Imajinasi: Kekuasaan Imajinasi
(Part II)
Kematian imajinasi pribadi yang dilewatkan di samping yang anonim/imajinasi aneh (banyak/imajinasi superior), sewaktu saya sudah menerangkan di bagian pertama dua artikel saya itu, mendorong kami untuk menghidupkan lagi imajinasi pribadi kami. Di tahap mengerti, saya mencoba menerangkan beberapa kekuasaan imajinasi kami.
). Tamsilan adalah medium efektif dan dapat diteruskan komunikasi
Komunikasi ditegaskan sebagai proses untuk mengatakan beberapa pesan succesfully dari seseorang ke yang lain. Di komunikasi ini, interaksi di antara pemberi keterangan dan kurator dannya succesfulness bergantung pada jenis medium yang dipakai. Pesan dari pemberi keterangan mempunyai kebenaran/pengetahuan/informasi penting yang mungkin disambut dengan sempurna untuk menghindari salah mengerti. Oleh karena itu, sedang komunikasi sangat penting. Kami tahu bahwa bahasa adalah medium universal bahwa tak terpisahkan di komunikasi. Mustahil berhubungan tanpa bahasa. Bahasa terdiri lisan dan nonverbal (bahasa tubuh, tamsil dan khayalan, tamsilan, dan semacamnya).
Dewasa ini, bahasa lisan sebagai medium pokok komunikasi didn’t memainkan perannya dengan sempurna. Bahasa nonverbal berganti sumur fungsinya. Misalnya, kertas berita/surat diganti di samping radio (audio sedang), televisi (audio-visual sedang), internet (audio-visual sedang). Bahasa nonverbal lebih efektif dan dapat diteruskan karena dikuasai oleh tamsilan dan dipusatkan “eye-catching”. Jika media massa memakai semakin tamsilan, komunikasi pesan (knowledges, pendapat, persepsi, kebenaran, dll) akan efektif dan dapat diteruskan. Di kasus ini, kami bisa melanjutkan itu tamsilan tidak bisa prisoned oleh bahasa lisan.
B). Imajinasi bisa mempercepat proses mengerti
Berdasarkan teori Kant’s atas imajinasi reproduksi, pengalaman ditangkap dari kenyataan dan tamsilan yang dibangun di pikiran kami. Ini tamsilan menjadi beberapa-bokong di pikiran kami sampai kekuasaan produktif imajinasi membuat mereka ke menjadi pengetahuan. Proses ini dipanggil oleh representational proses dari beberapa tamsilan ke dalam pengetahuan. Oleh sebab itu, representational proses memerlukan pedal gas. Imajinasi berisinya, thas adalah yang memantulkan cahaya (interpretating) kemampuan. Ini imagination’s kemampuan adalah pedal gas untuk representational proses tahu. Jika seseorang menggunakan dan mempunyai yang memantulkan cahaya yang dalam dan kuat/interpretating kemampuan, dia/dia mengerti apa saja secara cepat. Kenyataan atau benda mungkin dimengerti sebagai “imagoscription”: benda yang berisi tamsilan transparansi.
C). Kekuasaan dayatemu
Yang reproduksi, produktif, dan reflektif (interpretating) fungsi memungkinkan imajinasi berkumpul, bergabung, menghubungkan, dan mempersatukan banyak tamsilan dan konsep di persatuan sempurna. Fungsi ini memainkan tugas untuk mempercepat proses tahu dan mengerti. Tetapi imajinasi, sebagai tak pernah-berakhir proses, didn’t berhenti di fungsi ini. Ada terlalu banyak tamsilan melinungi manusia. Ini tamsilan berbeda satu sama lain. Di kenyataan, tamsilan membuat kemajemukan dan negara bagian kompleks. Kompleks ini tamsilan mempunyai ribuan kemungkinan yang tak dihubungkan. Tetapi imajinasi mempunyai kemampuan untuk mempersatukan ini tak menyambung tamsilan, yang adalah kekuasaan dayatemu. Kekuasaan dayatemu memungkinkan imajinasi menyambung tamsilan kompleks ini. Misalnya, ada dua tamsilan berbeda di pikiran kami: citra seekor kuda dan seorang laki-laki. Dua tamsilan berbeda ini bisa menimbulkan tamsilan baru,
centaurus
. The inventiveness power, too, created some possibilities:
1. the inventiveness power accelerated the ability to differ all images and imagerial concepts on mind. Images and imagerial concepts would be differed consequently and constantly by imagination.
2. this inventiveness power didn’t just unify some un-connected images, but unified some un-connected worldviews.
3. this inventiveness power enabled man to enter new heuristic domain. Here, worldviews, methods, and imagination were unified in harmony relation. Beauty was unified with technic, quills with cables, and so on. In other words, this inventiveness power enabled imagination to unify science, art, and technology: three domain that was always divided before.
d. Constuctive, de-constructive, re-constructive
Imagination was always in the three continuing process above, without end. The constructive function was seen in its work to build/connect some images and resulted new understanding. By the de-constructive function, imagination could re-build/re-connect this understanding to result a more perfect understanding. And then, by re-construtive function, imagination could create a newer understanding that was resulted from the de-constructed images. This three continuing process posed imagination as the otoritative faculty/process.
These were some powers of imagination. I thought that if these powers were used fully, our personal images could be created. Man, personally, created the original images that shown his/her survival against the other’s images. Didn’t be the loser, but be the winner by your personal imagination.
http://www.articlesgratuits.com
ino_hartono@yahoo.co.id