Pada awal Thirteenth Century Cholas yang sudah menguasai anak benua berabad-abad sudah menjadi begitu dialirkan sumber penghasilan bahwa mereka dengan sederhana tidak adalah kekuasaan mereka dulu biasa. Secara militer, jiwa tanpa belas kasihan abad-abad sebelumnya masih ada sampai luas, tetapi karena kekurangan sumber penghasilan mereka tak dapat menyelesaikan kombinasi yang sudah membawakan mereka sebegitu banyak kemenangan dulu. Angkatan bersenjata adalah kekuatan utama cholas. Dari persembahan mereka nampak bahwa mereka mengurusi banyak resimen setiap di antaranya yang dipusatkan berbeda kinds senjata hari seperti pedang, busur dan anak panah, tongkat kebesaran, ikan pike, anak panah, tombak dan bubungan menyala. Ada infanteri, kavaleri dan korps gajah. Angkatan laut kuat mereka memerintahkan banyak kapal besar, yang mengarungi jarak besar menaklukkan jauh negeri seperti Borneo, Jawa, Sumatra dan Vietnam yang adalah ribuan mil jauh. Kebanyakan raja Chola, ahli waris sampai tradisi yang sudah bertahan selama milenium-milenium adalah prajurit luar biasa yang menyebabkan sendiri dipimpin tentara-tentara mereka di pertempuran dan di beberapa kasus malah kehilangan jiwa mereka di pengejaran kemenangan sulit. Subversi dan infiltrasi angkatan bersenjata mereka selama hari-hari terakhir kekaisaran mereka adalah salah satu sebab untuk ketidakefisienannya dan yang menyebabkan kemunduran kekaisaran. Untuk, menjelang tahun 1240 A.D, tentara yang dasyat pernah cholas sudah menjadi banyak lebih kecil, disorganized dan dikelola parah ikat tentara yang tak membuat tertarik. Banyak panglima cakap baik sudah beralih kesetiaan mereka ke yang diremajakan pallava pemimpin atau dengan sederhana sudah lenyap dari pemandangan.
Korupsi memainkan peranan utama di kemunduran mereka. Karena yang mana pun terjadi di yang terakhir lima atau enam dasawarsa ke-13 abad A.D, bibit ditabur di terlambat ke-12 abad dan awal ketiga belas abad.
Mungkin menarik meneliti sejarah mereka dari ke-7 abad maju. Selama ketujuh abad A.D, non-vedic buddist dan jain kultus, habis sama sekali akibat kekaisaran sangat kuat suka pallavas dan cholas melarang mereka dan juga hak kependetaan berpengaruh mereka yang kalah ke advaitism. Selama kenaikan mereka untuk menggerakkan di ke-9 dan ke-10 abad-abad cholas sudah berkelahi dengan banyak memperangi seorang tuan rumah kerajaan. Banyak dari perang ini dengan buas kejam dan memimpin dengan kebebasan luar biasa, mendasar keanggunan berapi-api cholas. Meskipun Tak Satu yang ini Pun mempunyai agama motives,none yang ini dimaksudkan untuk menyebarkan chola kebudayaan dan societal norma, dan adalah usaha ekspansionis yang umumnya kekaisaran mereka secara tak langsung menghasilkan akhir kerajaan yang adalah pelindung luar biasa dan pendukung aktif Buddhism dan Jainism. Misalnya chola serbuan Srilanka di bawah Raja Raja, begitu hebat bahwa sebagai catatan peristiwa Budha mahavamsa menyadari kota betul-betul dihancurkan di setiap cara. Demikian pula, kekalahan kerajaan Chalukya Ganga dan utara Karnataka oleh cholas amat terkena Jainism, sebagai kerajaan ini adalah pelindung dan pendukung yang sama. Serbuan Chola chalukyan wilayah teramat hebat dan memahami perusakan wilayah secara menyeluruh. Cholas ialah inheritors tradisi kuno India jabatan raja dan di banyak cara bertindak sebagai penjaga yang sama. Mereka memendam masyarakat yang sangat kosmopolitan dan kreatif. Kesusasteraan periode mereka membicarakan karavan saudagar yang membajak cara mereka lewat hutan lebat dan kapal armada niaga yang membongkar muatan kekayaan banyak yang dibawa dari jauh negeri. Banyak idaman mereka suka individualism, demokratis self governance, tahunan pernyataan aset, tanah meninjau dan sistem perpajakan tidak mempunyai persamaan di sejarah dan dengan sempurna dapat dilaksanakan pada umur ini pun. Meskipun menurut tradisi kuno chola marga harus berterima kasih kepada Lord Siva di Chidambaram atas sikap tunduk dan kepatuhan yang ialah mereka kuladeivam (marga dewata), mereka adalah pemuja Lord Vishnu yang luar biasa juga dan dewata lain dan penganiayaan gara-gara bujukan agama tak dikenal sepanjang pemerintahan mereka.
Late in the 12th century A.D there was a philosopher called Ramanuja born near kanchipuram, who commited heresy by openly criticizing the four fold caste system prevalent from ancient times.
He started a sect called Srivaishnavas,that was supposed to bear servitude to Lord vishnu. That he preached Lord Narayana (Vishnu) to be a deadly rival of Lord Siva should throw some light on his character and motives. He openly recruited persona from all strata of society and preached them to become one group irrespective of class and caste in every sense of word.
He also proposed the scrapping of ritualistic worship at temples undertaken by Brahmins through ages and with supportive documentations, in order to accommodate lower castes into priesthood. His other activities like persuading people to stop worshipping Lord Siva etc clearly signalled conspiracy against the empire which led to his banishment from chola territories. Most of his activities are well documented. Unlike the great nayanmar saints of saivite persuasion or the previous pantheon of vaishnavite alwars who strictly restricted themselves to servitude of god and whose experiences with the almighty was real and natural, Ramanuja’s activities were mostly political. We hear of no divine intervention in his life as we see in lives of great nayanmar and alwar saints. It is anybody’s guess that those who had been at the receiving end with cholas during previous centuries would have joined and supported such movements. His starting of the cult of srivaishnavas led to the formation of populist communities and groups that indulged in subversive activities and periodically rebelled against chola Government. For example, during a war in Gangavadi near mysore state, few of the commanders who had secretly joined Ramanuja’s sect sabotaged the rest of the army which led to cholas facing their first military set back after centuries. During the time of kulothunga III in the early 13th century A.D there was a rebellion by farmers . One of the inscriptions available just after the period of kulothunga III in 1215 A.D speaks of a treaty executed by some chieftains declaring that enemy of one of them would be enemy of all and that they would not deceive the state or the king in any way. This definitely points to troubled times and presence of subversive activities. One might be inclined to drawing parallel to these events in history with the supposed role played by early Christians in toppling the ancient Roman empire.
The advent of Islamic kingdoms in North India during the period created a lot of confusion and communication barriers which indirectly aided the chola enemies. Infact the emergence of Ramanuja itself speaks of beginning of a kind of proxy war. The lack of resources and rebellion left the successive chola rulers of 13th century with too many problems and having to do too much with too less, that ultimately ended their rule in 1279 A.D.