Biasa panas dan gerah pertengahan Maret sore di trichnopoly, dan pemandangan adalah kota penuh sesak busstand dekat candi luka batu. Seorang pelanggan yang bosan secara kentara berjalan ke dalam cybercafé di tingkat pertama kompleks ke arah sebelah kanan busstand.
“ neengal no.5 eduthukkingal ” (Anda bisa mengambil penghabisan no.5) olok-olok pemilik toko, di yang pelanggan mengangguk dan berjalan ke arah terminal. Sesudah separuh –an-jam berselancar serius dia menggali sakunya untuk bayaran dan sewaktu dilakukan dia oleh sebab itu meminta “ evlo acchu” (bagaimana much?)
“You kelihatannya untuk menjadi dari kerala. Logat anda mengatakan oleh sebab itu. ” tanya pengawas toko dengan menghina dan pelanggan yang bisa melihat lewat permainannya pemihakan memberinya mouthful sebelum meninggalkan toko dengan marah. Kegelapan complexioned cybercafé pandangan pemilik di dia sewaktu dia pergi keluar.
Insiden di atas adalah penunjuk negara bagian hal pada abad ke21, pemandangan yang tidak begitu berbeda dengan itu di bagian negara lain atau dunia. Hebat pentingnya adalah orang Tamil extremism yang sudah adalah sebab keprihatinan Internasional.
Di srilanka, “tamil” ekstremis melebih-lebihkan pegangan gigi palsu, memasang bom dekat gedung dan melakukan pembantaian pada penduduk sipil. Sebab utama adalah sovinisme dan separatism. “tamils” yang sekarang melaksanakan perbuatan ini adalah kebanyakan pendatang itu yang datang selama umur pertengahan yang terlambat dan semacamnya dan kebanyakan dari deccan dataran tinggi India sebagai bagian-bagian penduduk koloni pendatang deccan kerajaan Muslim dan vijayanagar dinasti. Sungguhpun mereka mempertimbangkan perjuangan mereka di srilanka untuk menjadi penerusan chola periode dan yang jauh pun sangam waktu dan mereka sendiri sebagai membendung dari chola/pallava marga-marga yang berkelahi di srilanka. Masalah ini separatism dan sovinisme sukar memecahkan dan kecerdasan yang mana pun yang sudah dibuat lipatan menampakkan kepada kami hanya ujung gunung es. Chauvinists mengemukakan dengan pepatah bahwa sejarah manusia penuh dengan migrasi-migrasi dan bahwa siapa saja yang bersedia dianggap menjadi sebagian daerah atau seorang pembicara bahasa sebaiknya disetujui oleh lain-lainnya untuk menjadi begitu benar sejak semula. Malah di sebagian besar pendatang dan daerah yang tak rayu menurut sejarah suka pada Australia, Selandia Baru dan AS, ini adalah proposisi yang tak dapat diterima, apalagi untuk tempat, lidah dll dengan sejarah terus-menerus berputar kembali beberapa abad yang lalu biasa era dengan deskripsi di banyak legends.In satu cara, apa ialah applicable ke yang baru ialah juga applicable ke yang tua terpencil.
Masalah di sini lebih lanjut disulitkan oleh fakta bahwa yang datang selama umur pertengahan yang terlambat kebanyakan sebagai infiltrant penduduk koloni berasal dari kerajaan itu yang adalah musuh alami marga-marga termasyhur di atas yang dikatakan cholas/pallavas dan demikian membuat permintaan ini lebih mustahil untuk dijumpai dan ini kelihatannya menjadi yang paling kuat di antara beberapa kriteria melayani.
Displaying any kind of sympathy for such duplicity, partisanship and separatism can only serve to encourage such evil all over the world.
The Lankan side has its own complexities stemming out of migrations and is not free from partisanship. It seems to me that problems of this level of complicity, magnitude,depth and duplicity can never be solved(and should not be attempted to solve diplomatically) through talks and sops and it is necessary that the evil has to destroyed through wars of destruction, fought with seriousness, determination,persistence,commitment and sincerity.There can be no two opinions on the same.