Jejak kaki di pasir. Adalah puisi yang sangat tua yang mengingatkan kami bagaimana, kalau kami berpikir kami sendiri untuk berurusan dengan kehidupan yang paling jelek mesti melempar di kami, bahwa ialah sebetulnya kalau Tuhan paling dekat kepada kami sewaktu Dia membantu kami mengatasi waktu mengerikan itu. Seperingatan bahwa Tuhan selalu dengan kami, tak ada soal bagaimana hal jelek kelihatannya untuk mendapat.
Tetapi bagaimana Dia menyelesaikan ini? Di pengertian lahiriah yang sangat nyata, bagaimana Dia meninggalkan jejak kaki itu?
Tuhan sering muncul lewat alat yang sangat biasa. Di antara hal lain, Tuhan dalam masing-masing dari kami dan Dia mempergunakan pertalian seksama kami dengan satu sama lain untuk melakukan banyak aktenya dan mengantarkan banyak pesannya. Kita semua mempunyai sedikit Tuhan dalam kami. Dan kami semuanya cakap 'memajukan' orang lain kalau keperluan timbul.
Kalau seorang anggota keluarga mempunyai waktu sulit, kami menelpon mereka atau barangkali melihat mereka secara langsung untuk membantu di cara yang mana pun kami bisa. Kami menawarkan kami emosional dan kadang-kadang bantuan keuangan pun sediperlukan untuk menolong mereka berhasil mengatasi waktu sulit mereka. Baru saja selama dilakukan mereka bagi kami.
Kalau seorang teman sakit, kami mengunjungi mereka atau sedikitnya menilpon untuk berharap mereka baik-baik saja. Kami adalah telinga untuk mendengarkan dan bahu untuk menangis di.
Kalau orang asing mengemis di jalan, ada biasanya sedikitnya satu momen selama seumur hidup kami kalau kami merasakan kebenaran memberi orang itu sandwich atau sedolar untuk menolong mereka melaluinya hanya sehari saja lagi.
Setiap isyarat penyayang. Setiap karya amal. Setiap kali kami bersambungan di cara positif dengan manusia lain, entah kami mengenal betul mereka atau tidak - masing-masing saat ini adalah Tuhan yang muncul dalam kami. Adalah cara Tuhan di sana bagi kami kalau waktu sulit. Dia di mana-mana. Dan Dia secara harfiah mempunyai milyaran kaki - dan tangan - yang ada untuk menolong masing-masing dari kami datang lewat pasang naik dan tepi laut berbatu-batu.
Sungguh, kami tidak pernah sendiri.